Rabu, 08 Desember 2010

sajak - sajak maulana satrya sinaga

Sajak - Sajak Sederhana


Bukan Bermaksud Menggombal tapi Inilah Adanya


Ku tak ingat kapan ter-akhir kali memimpikanmu, yang ku ingat setelah percakapan kita, ku tutup gorden jendela yang penuh kunang – kunang.
Lalu dengan tangan melingkar pada kening, ku kenang – kenang senyummu, senyum yang sederhana dengan sebelah lesung pipit yang terkadang, menenggelamkan ku sedalam jurang.

Ku tak pernah mau berterus terang dan kau pun tak pernah jujur nanti maupun sekarang bahwa kita saling berkebun cinta. Menanam segala tawa, canda, larian, cubitan dan bermacam hal yang aku lupa namanya

Perempuanku, kali ini ku tak ingin memberimu puisi yang beragam metaforanya dan bersajak, karena pernah suatu kali kau kata “ku tak suka rayuan atau gombalan,” lalu ku diam sambil membuang daun di balik tangan. “ya, daun yang telah ku ukir puisi tentangmu di guratnya yang coklat,” daun yang biasa menemani percakapan kita ketika sore di halaman- di ayunan, di jalanan tiap kita menjejak rindu.

Malam telah – malam dan disebarang sana kau pasti terlelap. Aku tahu, perasaanmu saat bertanya pada ibu, kau mencintai dan menyimpannya menjadi segelas rindu yang beku. Ibumu pun tahu, akan jantungku yang kadang berdebar tak menentu, saat kau menarikan senyuman. Kau pasti telah terlelap disana, dalam selimut rasa dan ku juga. Cepatlah pulang. Dan ini bukan sebuah puisi atau gombalan tapi ungkapan perasaan. Selamat malam.

 Medan - Marelan, Desember 2010

puisi sederhana untukmu

ku tulis puisi ini di teras rumah,
tempat biasa kita berbicara tentang segala rasa
baik percakapan cinta dan perihal keluarga
kali ini angin lebih memilih diam,
tidak menggoyang daun mangga sedemikian rupa kencangnya
dan,
aku jadi teringat rambutmu yang basah
yang ku rindukan sandarannya di bahu - dulu

perempuanku,
disini ku masih menanti langkahmu
langkah yang sederhana
yang kunantikan tapaknya di halaman rumah
yang ku kenal aromanya meski dari ujung pandangan

di teras rumah
ku tunggu kau dengan sederhana
dengan segelas rindu
dan sepiring pertanyaan
mengapa kau tak pernah menjengukku
meski sekedar bertanya, apakah ku luka?

marelan, 2010

Perempuan sirup

memandangmu adalah segelas sirup yang terhidang
pada bola mata dan senyummu adalah kiambang padanya
(jelmaan es batu, agar segar kenangan pula siang)
ku ingat saat bertandang ke lesung pipitmu
aku tenggelam padanya yang merupa jurang

ya, begitulah
segelas sirup dan es batu
menyegarkan cintaku siang itu.

Marelan, 2010


Seingatku dulu

seingatku dulu, saat matamu menampung hujan
lalu dengan langkah sederhana kau jemput aroma pandan dari petang
kali ini ku tak membicarakan tentang paru – paru yang kau curi
saat bercanda dengan sebutir nasi yang sungguh
banyak hitungannya adalah sebenar rindu

seingatku dulu, hujan dan paru – paru sama warnanya
lalu hitam menjemput awan dan kau memilih rebah
pada pelataran kenangan setelah petang tak lagi
membicarakan tentang muasal nasi
dan ini berbolak – balik
serupa tanganmu yang menggenggam sebungkus matahari

seingatku dulu, matahari dan malam dekat jaraknya
dimana, paru – paru, nasi, rindu, pandan dan petang
muasal dari jantungmu yang dendang.


 Marelan, 2010

Kenangan
Oleh : Maulana Satrya Sinaga

saat kau membaca tulisan sederhana ini.
sesederhana itu pula : ku ucapkan rindu
ini tentang masa putih abu - abu
dimana ku kenal kau dalam teduh jilbab
dalam ayat yang santun kau ucap
dalam gemulai senyum yang bersebab ;
mengharuskan perasaan tuk mengenalmu ( lebih jauh )

aku ingat, kala kau melukis dedaun di halaman belakang
kala itu pula angin menggerai jilbabmu yang separuh badan
sungguh itu indah.
lalu dengan seksama ku mohonkan hujan
maka, tanpa lama kau berteduh pada payung yang ku bawa
ya, payung sederhana dengan warna jingga
tengah menyatukan mata kita
- saling berpandang -
dan selanjutnya..?
angin yang menyatukan rasa.

akh, pasti kau tengah menangis disana
meremas sebuah surat dan
aku tahu selanjutnya kau berucap ;
" ku juga rindukanmu, disana."

dulu. dulu sekali.

Ketika hujan di Marelan, 2010

Sajak sederhana  : Aku mencintaimu

Jujur : ku rindukan senyummu yang kala kita bertemu
Selalu saja ku pandangi bibirmu agar jatuh pada jantung
Agar ia berbicara indahmu tiap kali sebelum impi

Dalam langkahmu yang sederhana pula
Dari jauh telah ku cium aroma sekembang pandan
Padahal rambutmu tertutup kerudung
Yang meneduhkan ; lagi tiap kali kita bertemu

Selalu, pada gerakmu yang sederhana
Terkadang ocehanmu yang salah rupa
Pula santun dan lembut bicaranya
ku nikmati semilir angin yang meniup paru

Ini selembar surat
Ku selipkan di sela jendela rumahmu
Agar kau tahu maksudku ^_^

Pada Gerimis Marelan, 2010 

Adrya *

Ini tentang sebuah bintang yang sendiri
di sebelah barat rumah kita
seingatku, kita namai ia dengan adrya
akh, pasang surut cahaya sama seperti rindu
yang deburnya kadang tak menentu di hulu paru

Ini tentang lekuk senyummu di jauh hari
di jauh jarak yang tak seperti daun keladi
lalu ku pilih kiambang agar
tergenang malam
(berharap tangan kita saling silang dalam mimpi)
kemudian hari.

* Adrya : Adinda - Satrya ( bintang yang sendiri dalam waktu beberapa hari ini )
nama ini hasil kompromi : thika cahyani dan maulana satrya sinaga.
kami memaknainya sendiri ^_^..



Mengaharap Suatu  Pertemuan Sederhana.
Kepada : Thika Cahyani

Pada suatu jarak yang belum kita tahu artinya, kau disana menunggu sebuah senyum
dari seorang pria yang entah kapan datangnya.
Kadangkala sebelum malam kau sempatkan mengintip rembulan di celah daun teh muda.
Dan payung yang selalu kau gunakan menahan gerimis erat pula genggamannya ;
Sekedar menahan rindu agar tak gigil baunya.
Hmm, entahlah dinda.
Kita berseberang pulau dan selalu kita berjanji dalam mimpi hanya di dalamnya.
Masih ku nantikan denyut pertemuan ini. Di jembatan yang sering kau kisahkan aku pada genangan air, pada bebatuan yang jernih arusnya, pada anak ikan yang mulai pandai bercinta dan pada gerimis tentunya.
Dinda, sekian saja ya, ku ingin cepat bermimpi dan bertemu.

Medan - Bandung, tak bertahun..


Dalam Rindu yang Sederhana
Oleh : Maulana Satrya Sinaga 

Ku nanti kau di pucuk malam bersama mercusuar
yang aku lupa warnanya. semisal kau takut akan gigil
maka tatkala itu api unggun tengah jauh dari tubuh kita
ya, seharusnya kita lebih memilih selimut awan
dan menguliti rembulan untuk switer barumu juga ku
sederhana bukan?

Marelan, 2010 

( Sajak - Sajak Sederhana, Medan - Marelan 2010 )

3 komentar: