Jumat, 10 Desember 2010

Kompas Online.. Oase - Puisi, Rabu, 5 Agustus 2009 | 08:45 WIB

Sepi
Bayang yang sangkut di jendela
laksana burung hantu penjaga makam
padahal jantungku yang sangkut disana
berharap debu kenangan menempel
menyisakan sedikit cerita tentang
kenakalan remaja
Masih ingat aku
saat guru menerangkan, di sudut
kita kiriman surat, mencoret meja
dengan ukiran hati yang indah
padahal tak ada yang mengajari
rasa itu tumbuh subur dengan sendiri
Gerimis sering mampir
berduyun mencoba menghapus bayangmu
di kaca jendela
aku tak kuasa, tak bisa melarang mereka
menari eksotis di bola mata.




Ingatkah kau selembar daun hijau
di guratnya kita tulis puisi
alur cerita manja atau
cinta di bawah induknya
saat hujan tiba-tiba
merayu kita untuk berteduh
kering daun itu sekarang
usia memakannya seperti kita
menyisir uban di kepala
ia remuk ditindih angin
dan di dalam tanah tak ada habisnya
kau bercerita kepada tetangga
tentang cinta kita berdua
Medan, Juni 2009
Sebuah Mangkok
Mangkok yang berlumut ditangannya
menganga penuh tanya
“Akankah selembar uang mengisi lambungnya hari ini?”
dingin tangan keriputnya menengadah
mata sendunya bergetah, berjekat dosa
takkah kau lihat
sesaji luka telah ia tabur
kau berlalu tanpa jatuhan lembar rupiah
atau mengibas senyum.


Menunggu Mimpi
Negeri yang kita huni tak mampu
meninggalkan lelap di mata
tangis bencana terus meminta
sebuah nyawa untuk dipulangkan
atau ratapan kecil pinggir jalan
dan rayuan tengadah tangan
Bising!
takkah kau mau berpindah saying,
mencari negeri dongeng yang kata orang
permintaanmu semua dikabulkan
Dimana tak ada ratapan disana
lara, luka dan nyawa semua tertata
tiada yang mengantri
tiada yang menyumbang tangisan
tapi sayang, mengapa tetap menunggu
tersentaknya negerimu.
Bukankah kau bilang :
telah mengantuk dan secepatnya ingin tidur.


Malam
Jejak memaku malam,mimpi belum sempurna
gurat gelisah menetes dari pucuk daun
mengalahkan teduh embun dan lolongan anjing
mengudara sepi
tersudut gadis setengah baya memangku gelisah
kaki kecil mengigil, bergemeretak menahan
rinding yang tak kuasa ia benamkan dalam tangis
Pertengahan malam, gaun koyak setengah terbuka
ia tarik, menutup pori-pori kulit
dari jerat-jerit angin
tangis gadis kampung di tengah deru jalanan
wajah dan matanya menggambar sesal
meninggalkan desa tanpa pamit orang tua
melangkah terus meninggalkan keramaian
dengan percik darah suci di sepanjang jalan.
Sungguh, ia ingin pulang.


Menunggu Hujan
Angin lebih memilih rebah pada dingin
musim mengering, malam terlalu pekat
untuk setetes air
rekahan tanah tempat bocah,
membuang ingus, kencing bahkan darah
mengharap selembar daun tumbuh
dari batangan keropos kehidupan
Disini, gerimis mahal harganya
awan tak sedang memeras tangis
malaikat tak menjemur pakaian
basah, kita menunggu dengan getar
haus kerongkongan
retak kulit kering mengelupas
menyisakan sisik gelisah
juga kering lautan. Tanya terus tumbuh
mesjid mulai penuh
mengganti satu dosa dengan setetes air langit
di luar
segerombolan orang minum darah
saudaranya mengering.
Medan, Juli 2009
Kau Mungkin Tak Ingat Lagi
Kau mungkin tak ingat lagi
saat belanda menguasai kota kita
perempuan tak ada lagi memenuhi kali
termasuk juga kau yang berdiam diri
di gubuk sunyi setelah ayah dan ibumu
ditembak mati, kau melarikan diri saat itu
deru bom yang menghasukan desamu
sampai ke kotaku
Kala itu aku bertandang
pengunungan hijau asri
dan kita berjumpa ditengah arus sungai
dingin menjilat kaki
entah siapa yang menghantarkan
selembar pakaian dan rebah dipangkuanku
kau ikuti alur, terkejut menutup mata
Aku mandi, menghilangkan lelah pertarungan
sambil mencari bambu untuk diruncingkan
atau menunggu senjata dari teman yang mereka
curi dari gudang belanda dengan berani
aku tutup dada, sama terkejutnya kita
cepat mengambil pakaian, kau belum juga
membalikkan badan atau sekedar bertanya
Pakaianku lengkap dengan selempang sarung dibahu
keris di sudut pinggang kiri, aku hampiri
merayu senyummu dengan mengembalikan
selendang merah, semerah rona pipimu
tak lama setelah kita bertukar tanya
orang tua kita selanjutnya bicara.
Sepakat telah keramat, minggu depan dengan
sajadah lengkap pengikat, aku tuntun dirimu
ke altar suci.
Tiga hari sebelum perbuatan kita disyahkan
desing perluru menghujam desa
nafas warga dan orang tua sangkut di ujung senapan
larian gadis mereka jadikan permainan
kau bebas disembunyikan pohon bambu
tempat waktu kecil menghabiskan waktu
gubuk sunyi pinggir kali desa seberang, kau sembunyi
kota tak lagi milik kita dengan satu-satu langkah
sebelah kaki aku menjemput. Kau mungkin tak ingat lagi.

Medan- Juli, 2010 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar