Sajak – sajak ; Maulana Satrya Sinaga
Suara Pembaruan, 19 September 2010 Rubrik : Puisi
Terakhir Kali Aku Menuggumu Sambil Berkaca
Terakhir kali aku menuggumu sambil berkaca
pada kolam bulan telaga warna
riak air yang membayang menguak wajahmu
seperti ada senyum bersarang
kedap suara burung hantu
angin menyiul luka
akar sepi, serabut sunyi
cermin telah pecah dan aku bersandar
pada dinding basah
Ini Tentang Perempuan yang Datang Malam – Malam
Tentang perempuan aroma melati di gerbang rumah antara pohon beringin dan rindang rindu jejaknya pula mendayung angin pun aroma gerai rambut pada bulan purnama ia berkaca selendang putih sangkut di ayunan papan kadang ia menembang, kadang pula menyayat sedih pada lalu lalang orang, sering pula ia tertawa nyeri
tentang perempuan aroma kemenyan di gerbang rumah jejaknya tak cecah dibuai rumput belia pun embun sesudahnya ada gelisah bersarang diterusan bajunya yang merekah sewarna awan yang merah pun remang lampu jalan
tentang perempuan yang datang malam – malam mengaromakan kerinduan, konon ia sangkutkan sakit hati pada pohon beringin bak burung hantu merindu sayang tak dapat terbang dan ada sedih yang menggenang (siapa sangka sekarang, perempuan yang datang malam – malam terbang melayang) sebentar di teras rumah, sebentar di kamarku.
Bau Tubuhmu
Ketika air mata kita tak lagi sama warna bak camar menunggu di pekarangan senja sama warna pula awan di semenanjung barat menunggu kita yang renta
Ketika itu juga tak lagi aku cium bau tubuhmu, searoma ombak yang asin dan sedikit menggoda
Perempuan berselendang malam aroma bulan berdendang, mengais sunyi - menghiba nadi - merasuk diri sekian. kau pamit pergi.
Sekadar Menunggumu
; Gadis pelataran sepi
Remang lampu jalan. hujan tanggung tergenang bersebab ada gigil menghujam entahlah, mengapa jejak memangku pada sebuah bangku tunggu antara stasiun tua juga gerbong – gerbong kereta yang mendamba suatu pertemuan aku tinggalkan saja segala resah (menabung ruang sisa luka kemarin)
lalu di belakang plasa ringkih bangunan becek jalan ada desah ada jerit, ada pula jatuhan uang ada dosa tentunya ah, daun kemayu itu malu – malu menanggalkan seluruh rindu “Singgahlah,” sekedar memanggil gadis pelataran sepi, masih juga kau tunggu aku membawa sepercik api sayang, aku telah berhenti merokok sekarang
Kau Diam Saja
Celoteh nakalmu mengingatkan
suatu kali pikiran perumpamaan kembang
selendang tujuh warna pelangi
patah di hati ada raung terbuang
dan kau diam saja
melambai tenang
Awal Kisah
Ada warna dalam kecupmu
segaris bibir, lekuk dari gelombang pikiran
bukan nafsu mengambang
gerimis tanggung ialah menembang kenangan
tak berbaju, aku tuntun dirimu
gigil. seragam membasah
berawal segala kisah
KSI – Medan, 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar