Sajak – Sajak Maulana Satrya Sinaga
Jurnal Bogor, 22 August 2010 Rubrik: Ruang Sajak
Surat dari Anak serta Balasannya dari Sang Ibu
(Buat Ibunda Tercinta) Bu, maaf tak dapat ku jejak kaki di halaman hatimu sebenarnya ada risau dan rindu yang menggantung. Maaf pula Bu, dua kali lebaran ku tak pulang meskipun sekadar mencium telapak tangan. Disini, ada janji lain yang ku ikat Bu, untuk kehidupanku di masa mendatang. Untuk membalas baktimu jua tentunya. Bu, Ibu sehat – sehat saja kan? Telah ku kirim pada ratih – anak perempuan ibu satusatunya – pula adikku tercinta. Semoga ibu bisa membeli mukkenah yang baru dan bermacam hiasan pelengkap lebaran. Bu, lebaran ketiga nanti. Ku pasti berkunjung pada kelopak matamu, pada ayunan kasih sayangmu pada rindumu. Bu, salam sayang anakmu.
(Buat Anakku Tercinta) Nak, baik – baiklah di seberang sana. Sebenarnya ibu mengharap rupamu yang datang daripada pesanan yang tiap bulan di ambil adikmu di AteEm kota sana. Disini, tiap kali mengenangmu ibu menangis. Apa kabar darah dagingku dan bagaimana bentuk wajahnya yang selalu ku ayunan dengan tembang dodoy si dodoy. Ibu sehat – sehat saja Nak, terima kasih atas baktimu. Kejarlah cita – cita. Suatu saat bila kau tak pulang lagi. Entah harus berapa kali ibu jahit di hati. Nak, ibu telah tua. Dan disamping anak. Itulah cita – cita ibu sebelum memejamkan mata. Ridho ibu untukmu.
Surat Buat Aisyah Aisyah, ku dengar kau telah menikah dengan saudagar kaya kampung seberang. Semoga bahagia haturku terhantar untukmu. Maaf, tak dapat ku jabat tangan. Kau tau kan kita terpisah oleh arus gelombang? Aisyah, kalau pun aku terpacak disana. Pasti ku tak kuat, melihatmu bersanding dengan pria lain di singgasana pengantin. Akh, pasti sedih. Jadi, disini. Aku tabah – tabahkan hati sendiri. Aisyah, jangan terkejut aku tahu darimana dan janganlah pula mengelak. Kau tau? Undangan kalian selama seminggu ini aku pandang. Bukankah di dalam turut mengundang ada pula nama orang tuaku? Suamimu sepupuku.
Asiyah, rasanya tak perlu lagi ku tanam rindu kau tanam tunggu. Akar janji telah terbakar pula hati. Sudahlah, tak perlu berlama tulisan. Makin banyak – makin dalam air mata tergenang. Semoga langgeng ke anak cucu. Itu saja.
Menyimpul Rindu di Dermaga Warna dermaga serupa senja. Merah saga. Telah melegak hitam dan matahari tumbang padanya. Kau tak juga datang, bahkan gerai rambutmu yang biasa tergenang di titian tak lagi dapat ku simpul – sehelai pun. Ada suatu sebabkah kau tak datang? Sekadar menjenguk anak camar belajar menangkap ikan, nelayan pulang dengan mata seadanya (mengintip romansa anak udang di balik karang). Akh, kau perempuanku tembang sepi ku nikmati sendiri. Pasang tetap pasang, jejak tiada datang.
Mengenangmu di Teras Rumah – Sri
Sri, tiga bungkus rokok dari puluhan batang ku umpamakan risau. Malam telah benar – benar malam. Kalau kau lihat disana, purnama telah jelang dan sungguh kuning emas warnanya. Teh manis ku pun telah embun. Serupa jantungku yang beku tiap kali mengenang perpisahan itu.
Sri, ku rindu rambutmu yang pandan – melati harumnya. Mengikat jejak agar berlama – lama diam di tempat. Bukan hanya itu, bola matamu yang dalam tempat menyelam cinta dari seribu petualangan tak pula ku lupakan.
Namun Sri, biarlah itu menjadi kenangan, kau tau derajat kita sungguh jauh tingkatnya. Jadi maklum sajalah ayahmu tiada setuju. Jangan basahi bantal dengan air mata karena ku benci hujan malam ini. Mengganguku melihat purnama.
Kenangan di Desa – Zulaiha
Leha, gerai jilbabmu melambai ke jantungku. Pucat pasi warnanya tak lagi merah nyala. Kau bertandang saat ku berbicara ladang, dengan sepeda tua ringan kau kayuh senyuman dan dari itu pula terkait jantungku di pedalmu. Leha, tak sia – sia ku habiskan liburan di desamu. Desa yang harum bau tehnya. Sopan akhlaknya, ramai suraunya. Ramai pula rasa hatiku bila memandangmu. Leha, janganlah menunduk saat ku tatap. Ku ingin membenamkan pandangan kagum pada bola matamu yang coklat. Entahlah. Leha, inginku berlama disini dan enggan kembali ke kota. Kan ku terima semua syarat dari orang tuamu. Dan secepatnya, seperangkat sajadah ku sediakan. “Sebelumnya abang harus belajar mengaji,” katamu. Aduh leha, aku malu. Kau tersipu.
Pamit
Dalam diam serupa cahaya kunang – kunang. Ini malam, tak dapat ku tahan resah. Di halte kota tempat pertemuan kau datang dengan gaun putih kembang. Tak biasanya wajamu pucat. Angin khidmat dan dalam pamit yang hampir tak bersuara ku lamunkan tujuh hari kenangan.
KSI -Medan, 201
Tidak ada komentar:
Posting Komentar