(diterbitkan di Rebana, - Harian Analisa)
Wanita pengurai kisah
Kau wanita pengurai kisah
membawaku larut bersama sejarah
ingatan mengintai langkah
memilin senyum dalam larian kecil – kecil
kaki kita hangat menyentuh riak danau toba
ikan mas mengekor dari belakang
sedang asyik kau bertanya jawab pada samosir yang diam
angin mengarahkan lalu lalang mata
di beranda istana maimon dengan tawa tertahan
kita duduk dalam lipatan kaki sopan
Sultan Deli tengah menawan pandangan
pada mesjid raya kesayangan
tak mau menganggu lamunan,
sebuah kampung diantara sungai Babura dan sungai Deli
telah sampai kita, saling bersembunyi dibalik gubuk
bercanda mengejutkan.
sempat bola mata kita menanam pandangan
Guru Patimpus harap – harap cemas
menunggu kelahiran anak kedua menggunakan mimik bijaksana
kau wanita itu,
pesona mengetarkan ujung sabang hingga utara pulau jawa
sejumlah beras dan beribu telur kau pinta
selanjutnya hilang dalam gelombang
kantuk mengucur peluh, dalam repetan angkot yang panjang
tersadar aku dan lalu lalang pandangan telah sampai ke kesawan.
------------------------------------------------------------------
(diterbitkan, di Rentak - Harian Medan Bisnis)
Senja itu
Senja, langit berabu mengusung pilu
tak pernah kau bayangkan
peristiwa mencangkul dalam bola mata
jerit menambat telinga
melengkingkan tak percaya
gemuruh langkah memercik darah.
saudara, kami saksikan
gerimis air mata lewat layar kaca
pekik tertahan
menengadahkan tangan dengan lembut do`a
kau kecup ranah minang
tanamkanlah sabar, meski bibit trauma
telah tumbuh disana.
Wanita di ujung hati I
Wanita, kapan pucuk rindu kau
semai didadaku yang mulai mengabut
lembut tanganmu dulu saat
mempupuk setumpuk biji
tanpa rasa cemas akan kering
atau layu
musim panen wanita, petani
dengan senyum malu-malu
menelanjangi padi
para ibu tak cemburu
lenggok pinggul
menggemburkan tanah
dengan lengauhan kerbau
wanita, dadaku sesak terisi
terus kau tanam butir-butir
puisi
sungguh, aku kehabisan majas.
Wanita di ujung hati II
mendengar celoteh jangkrik
mengemas tanya,
"dimana kau wanita?"
burung hantu belum menjerit
malam masih berkompromi
apakah bulan sudah siap
aku ajak mengembara mencarimu
kau menenggelamkan detik wanita
mengganti dengan bunyi yang
lebih banyak Aku gunakan
mengabsen satu-satu uban
malam sumbang, warna seprai
telah luntur tak lagi merah muda
pembuat nyawa. Kau masih bertahan
merajut kepercayaan
tetap saja disudut, jangan mengangkangi
birahi yang ku buat sendiri. Disini.
Wanita, kapan pucuk rindu kau
semai didadaku yang mulai mengabut
lembut tanganmu dulu saat
mempupuk setumpuk biji
tanpa rasa cemas akan kering
atau layu
musim panen wanita, petani
dengan senyum malu-malu
menelanjangi padi
para ibu tak cemburu
lenggok pinggul
menggemburkan tanah
dengan lengauhan kerbau
wanita, dadaku sesak terisi
terus kau tanam butir-butir
puisi
sungguh, aku kehabisan majas.
Wanita di ujung hati II
mendengar celoteh jangkrik
mengemas tanya,
"dimana kau wanita?"
burung hantu belum menjerit
malam masih berkompromi
apakah bulan sudah siap
aku ajak mengembara mencarimu
kau menenggelamkan detik wanita
mengganti dengan bunyi yang
lebih banyak Aku gunakan
mengabsen satu-satu uban
malam sumbang, warna seprai
telah luntur tak lagi merah muda
pembuat nyawa. Kau masih bertahan
merajut kepercayaan
tetap saja disudut, jangan mengangkangi
birahi yang ku buat sendiri. Disini.
-----------------------------------------------------------
(diterbitkan, di B`gaul - Harian Medan Bisnis)
Seragam Merah Putih
Seragam merah putih kita balutkan
dalam cinta tak mengerti kita kala
diperintah guru menggarang
atau menggambar pahlawan
dalam benak kita hanya ada
sepasang monyet malu bergenggaman tangan
Seragam Biru Putih
Malu masih kita kenakan
memainkan tulisan dalam bait-bait rindu
baru mengerti kita, apa itu puisi
dan saat malam dating dirumah masing-masing
kita berkenang-kenang.
Seragam Abu-abu Putih
Rindu mulai kita tumpahkan
dalam dekap erat memainkan cerita dan
mengulum sumbernya cinta telah kita bungkus
paksa, menyinggahi malam dan terlelap
pada separuhnya lalu pulang membawa senyuman
yang lepas setengah
Tanpa Seragam
Malam tak usai-usai kita telanjangi bulan
sampai berakhir pada kokok ayam
cerita telah semua kita pentaskan
tak ada lagi sehelai layar sangkut disana
suatu saat bila air mata mengambil alih seragam kita
biarkan saja.
Bukankah kita lebih senang bertelanjang.
------------------------------------------------------
(diterbitkan, di Kalam - Harian Global)
Air Mata Darah
Rindu yang menggumpal telah aku tanam
menunggu mekar di pucuk peradabaan
seorang anak memintaku menyalin catatan
tentang : Sedenting receh atau luka
dipukul preman yang Ia sembunyikan dari ibu
Begitu juga aku menggenangkan tangis
bukan di tengah jalan
yang sering kau sebut : kubangan
lebih memilih menyusun sebuah tangga
memanjat dan menemukan secawan cerita
atau teks menuju syurga
Saat itu di kota kita tengah keruh
sungai yang membanjir sampah
atau terkadang raungan ibu
kehilangan anaknya..
mengharap alirannya menuju mataku
Sayang, tengah lelah kita menyulut musim
merajut lembar rupiah,
saat rindu kita tumpahkan di atas popcron
bukankah saat itu film kesayanganmu
tengah diputar
Sudahlah..langit tengah mengandung hujan
tengadah tangan aku lakukan
menarik rintik dari persembunyian
terlarut bersama dingin yang terus aku harap
dan hey :"Mengapa langit meneteskan air mata darah?"
menunggu mekar di pucuk peradabaan
seorang anak memintaku menyalin catatan
tentang : Sedenting receh atau luka
dipukul preman yang Ia sembunyikan dari ibu
Begitu juga aku menggenangkan tangis
bukan di tengah jalan
yang sering kau sebut : kubangan
lebih memilih menyusun sebuah tangga
memanjat dan menemukan secawan cerita
atau teks menuju syurga
Saat itu di kota kita tengah keruh
sungai yang membanjir sampah
atau terkadang raungan ibu
kehilangan anaknya..
mengharap alirannya menuju mataku
Sayang, tengah lelah kita menyulut musim
merajut lembar rupiah,
saat rindu kita tumpahkan di atas popcron
bukankah saat itu film kesayanganmu
tengah diputar
Sudahlah..langit tengah mengandung hujan
tengadah tangan aku lakukan
menarik rintik dari persembunyian
terlarut bersama dingin yang terus aku harap
dan hey :"Mengapa langit meneteskan air mata darah?"
------------------------------------------------------
Anak Kecil yang Menyemir Rindu
Bola matamu yang coklat bergelombang
tengah menyemir rindu
melupakan rasa coklat di sela gigi
dan petuah ibu sebelum tidur
alpa kau lakukan
disini, ditengah labirin waktu keasingan
tegar kau tanam dalam hati
padahal kau tahu saat malam
bercerita pada bulan, mereka menangis
bermimpilah anak kecil,
tiada rubah yang bisa mencurinya darimu
adalah sunyi yang kau panggil
sudut dinding itu terasa asing
sepasang kalelawar mengintip
celah lapuk kayu lembab juga kecoa
hiraukan jeritan malam
tutup telingamu dengan sebelah tangan
meski rusukmu menggigil luka
tidurlah, jauh di tengah malam
tak lupa kan ibu do`akan
meski ibu sering menangis
merasakan tunjangan luka mereka
di balik jeruji, rindukan ibu nak..
Merajuk
Dahaga yang panjang menyusutkan amarah
aku hanya ingin mengunjungi tangis
mengutip jejak yang tercecer sepanjang perjalanan
mentari acapkali memalak siang
membuat aku bingung menyusuri
jalanan alasan
Wanita, kau menunggu terlalu lama
memakai tudung kesal
yang di sentuh debu
sudut bibirmu mengembang kala
senja aku gegenggam di tangan
lantas kau pergi
menurutkan pembalasan, tanpa tahu
ku terlambat dengan membawa
sajadah dan lainnya.
Amarah
Suatu waktu berku, tak pernah
dibahas atau mencairkannya
dalam gumpalan rindu
darah merah melegak disisian antaranya
lingkar rusuk reot, terselip
sepasang amarah yang ingin muntah
Tajam parang menjelma pada sorot bola mata
Tangis tergenang di jalanan
Lalu lintas mengada-ada lampu tak berwarna sempurna
Merah. Lautan gundah telah pasang
Garis kejam terpampang di dada
bermacam puisi keluar dari bagian tubuh
satu nyawa terbang dan lain masih
di tenggorokan,
bercak setan terpercik pada baju putih
tangis anak kecil menggamit suatu harap
Kita kami, rimbun luka menyelimut
senja mengabut duka berwarna hitam keemasan
nyawa tak lagi berharga
lambung lebih sering pecah dan pukulan
sampai kematian menyemarakkan hari
tiap lantunan menit
Gumpalan rindu akan kemerdekaan
dengan sebilah parang mereka melawan
kemiskinan
amarah meluap membakar harta
menjerat bangunan kaya
tak pernah dibahaskah tuan?
ataukah kalian cairkan sebuah nyawa kami
dengan uang?
--------------------------------------------------------------
(diterbitkan, di Remaja - Harian Global)
Pelajaran Cinta
Kala bulan purnama, aku panggil hujan
untuk ikut bersenandung
menanam suatu jantung agar mekar di hatimu
adalah kita, menghabiskan masa SMA
di tengah tumpukan buku, tak kita selesaikan
pekerjaan Rumah, tak pernah
disini diantara gemuruh waktu kita terus bercanda
hujan memaksa kita
membahas pelajaran cinta.
Ada aku
Tangis sebuah perasaan, bila kita terluka
tumpahkanlah, jangan takut tersesat
karena ada aku yang memegangi
sebelah hatimu yang telah rapuh
Jangan takut tenggelam oleh luka
masih ada aku
yang akan mengapungkan jantungmu
Jangan takut akan cinta
ada aku yang siap membalut perasaanmu
jangan takut. Ada aku, ada aku.
“Akh..kau tak sadar juga…”
--------------------------------------------------
(diterbitkan, di Budaya - Sumut Pos)
Do`a
Gelaran do`a telah usai
kios tutup menyisakan
puntung-puntung dosa
taubat telah digulung
sebuah ruh memaksa
membuka tikar, duduk bersila
menyimpuhkan muka
lantas dari hentakan mimpi
seseorang turun
mengambil wudhu.
Dongeng
Serpihan hati membentuk kereta labu
Pegasus putih membawa kita
kedalam jalur pelangi
peri menghantarkan peta
agar tak tersesat kita
dikastil para naga atau
rumah penyihir tua
dengus serigala memburu domba
dihati, hingga akhirnya
kau melahirkan kurcaci dan
dari atas pohon kacang yang menjulang
aku jatuh, berputar pada jarum weker
terbangun dari seribu satu malam, ini mimpi.
Medan, 2009