Jumat, 10 Desember 2010

Sajak - Sajak di Koran Medan


(diterbitkan di Rebana, - Harian Analisa)
Wanita pengurai kisah
Kau wanita pengurai kisah
membawaku larut bersama sejarah
ingatan mengintai langkah
memilin senyum dalam larian kecil – kecil
kaki kita hangat menyentuh riak danau toba
ikan mas mengekor dari belakang
sedang asyik kau bertanya jawab pada samosir yang diam
angin mengarahkan lalu lalang mata
di beranda istana maimon dengan tawa tertahan
kita duduk dalam lipatan kaki sopan
Sultan Deli tengah menawan pandangan
pada mesjid raya kesayangan
tak mau menganggu lamunan,
sebuah kampung diantara sungai Babura dan sungai Deli
telah sampai kita, saling bersembunyi dibalik gubuk
bercanda mengejutkan.
sempat bola mata kita menanam pandangan
Guru Patimpus harap – harap cemas
menunggu kelahiran anak kedua menggunakan mimik bijaksana
kau wanita itu,
pesona mengetarkan ujung sabang hingga utara pulau jawa
sejumlah beras dan beribu telur kau pinta
selanjutnya hilang dalam gelombang
kantuk mengucur peluh, dalam repetan angkot yang panjang
tersadar aku dan lalu lalang pandangan telah sampai ke kesawan.
------------------------------------------------------------------
(diterbitkan, di Rentak - Harian Medan Bisnis)
Senja itu
Senja, langit berabu mengusung pilu
tak pernah kau bayangkan
peristiwa mencangkul dalam bola mata
jerit menambat telinga
melengkingkan tak percaya
gemuruh langkah memercik darah.
saudara, kami saksikan
gerimis air mata lewat layar kaca
pekik tertahan
menengadahkan tangan dengan lembut do`a
kau kecup ranah minang
tanamkanlah sabar, meski bibit trauma
telah tumbuh disana.
Wanita di ujung hati I
Wanita, kapan pucuk rindu kau
semai didadaku yang mulai mengabut
lembut tanganmu dulu saat
mempupuk setumpuk biji
tanpa rasa cemas akan kering
atau layu

musim panen wanita, petani
dengan senyum malu-malu
menelanjangi padi
para ibu tak cemburu
lenggok pinggul
menggemburkan tanah
dengan lengauhan kerbau

wanita, dadaku sesak terisi
terus kau tanam butir-butir
puisi
sungguh, aku kehabisan majas.

Wanita di ujung hati II
mendengar celoteh jangkrik
mengemas tanya,
"dimana kau wanita?"
burung hantu belum menjerit
malam masih berkompromi
apakah bulan sudah siap
aku ajak mengembara mencarimu

kau menenggelamkan detik wanita
mengganti dengan bunyi yang
lebih banyak Aku gunakan
mengabsen satu-satu uban

malam sumbang, warna seprai
telah luntur tak lagi merah muda
pembuat nyawa. Kau masih bertahan
merajut kepercayaan
tetap saja disudut, jangan mengangkangi
birahi yang ku buat sendiri. Disini.
-----------------------------------------------------------
(diterbitkan, di B`gaul - Harian Medan Bisnis)
Seragam Merah Putih
Seragam merah putih kita balutkan
dalam cinta tak mengerti kita kala
diperintah guru menggarang
atau menggambar pahlawan
dalam benak kita hanya ada
sepasang monyet malu bergenggaman tangan
Seragam Biru Putih
Malu masih kita kenakan
memainkan tulisan dalam bait-bait rindu
baru mengerti kita, apa itu puisi
dan saat malam dating dirumah masing-masing
kita berkenang-kenang.
Seragam Abu-abu Putih
Rindu mulai kita tumpahkan
dalam dekap erat memainkan cerita dan
mengulum sumbernya cinta telah kita bungkus
paksa, menyinggahi malam dan terlelap
pada separuhnya lalu pulang membawa senyuman
yang lepas setengah
Tanpa Seragam
Malam tak usai-usai kita telanjangi bulan
sampai berakhir pada kokok ayam
cerita telah semua kita pentaskan
tak ada lagi sehelai layar sangkut disana
suatu saat bila air mata mengambil alih seragam kita
biarkan saja.
Bukankah kita lebih senang bertelanjang.

------------------------------------------------------
(diterbitkan, di Kalam - Harian Global)

Air Mata Darah
Rindu yang menggumpal telah aku tanam
menunggu mekar di pucuk peradabaan
seorang anak memintaku menyalin catatan
tentang : Sedenting receh atau luka
dipukul preman yang Ia sembunyikan dari ibu

Begitu juga aku menggenangkan tangis
bukan di tengah jalan
yang sering kau sebut : kubangan
lebih memilih menyusun sebuah tangga
memanjat dan menemukan secawan cerita
atau teks menuju syurga

Saat itu di kota kita tengah keruh
sungai yang membanjir sampah
atau terkadang raungan ibu
kehilangan anaknya..
mengharap alirannya menuju mataku

Sayang, tengah lelah kita menyulut musim
merajut lembar rupiah,
saat rindu kita tumpahkan di atas popcron
bukankah saat itu film kesayanganmu
tengah diputar

Sudahlah..langit tengah mengandung hujan
tengadah tangan aku lakukan
menarik rintik dari persembunyian
terlarut bersama dingin yang terus aku harap
dan hey :"Mengapa langit meneteskan air mata darah?"

------------------------------------------------------
 
Anak Kecil yang Menyemir Rindu
Bola matamu yang coklat bergelombang
tengah menyemir rindu
melupakan rasa coklat di sela gigi
dan petuah ibu sebelum tidur
alpa kau lakukan
disini, ditengah labirin waktu keasingan
tegar kau tanam dalam hati
padahal kau tahu saat malam
bercerita pada bulan, mereka menangis
bermimpilah anak kecil,
tiada rubah yang bisa mencurinya darimu
adalah sunyi yang kau panggil
sudut dinding itu terasa asing
sepasang kalelawar mengintip
celah lapuk kayu lembab juga kecoa
hiraukan jeritan malam
tutup telingamu dengan sebelah tangan
meski rusukmu menggigil luka
tidurlah, jauh di tengah malam
tak lupa kan ibu do`akan
meski ibu sering menangis
merasakan tunjangan luka mereka
di balik jeruji, rindukan ibu nak..

Merajuk
Dahaga yang panjang menyusutkan amarah
aku hanya ingin mengunjungi tangis
mengutip jejak yang tercecer sepanjang perjalanan
mentari acapkali memalak siang
membuat aku bingung menyusuri
jalanan alasan
Wanita, kau menunggu terlalu lama
memakai tudung kesal
yang di sentuh debu
sudut bibirmu mengembang kala
senja aku gegenggam di tangan
lantas kau pergi
menurutkan pembalasan, tanpa tahu
ku terlambat dengan membawa
sajadah dan lainnya.

Amarah
Suatu waktu berku, tak pernah
dibahas atau mencairkannya
dalam gumpalan rindu
darah merah melegak disisian antaranya
lingkar rusuk reot, terselip
sepasang amarah yang ingin muntah
Tajam parang menjelma pada sorot bola mata
Tangis tergenang di jalanan
Lalu lintas mengada-ada lampu tak berwarna sempurna
Merah. Lautan gundah telah pasang
Garis kejam terpampang di dada
bermacam puisi keluar dari bagian tubuh
satu nyawa terbang dan lain masih
di tenggorokan,
bercak setan terpercik pada baju putih
tangis anak kecil menggamit suatu harap
Kita kami, rimbun luka menyelimut
senja mengabut duka berwarna hitam keemasan
nyawa tak lagi berharga
lambung lebih sering pecah dan pukulan
sampai kematian menyemarakkan hari
tiap lantunan menit
Gumpalan rindu akan kemerdekaan
dengan sebilah parang mereka melawan
kemiskinan
amarah meluap membakar harta
menjerat bangunan kaya
tak pernah dibahaskah tuan?
ataukah kalian cairkan sebuah nyawa kami
dengan uang?
--------------------------------------------------------------
(diterbitkan, di Remaja - Harian Global)
Pelajaran Cinta
Kala bulan purnama, aku panggil hujan
untuk ikut bersenandung
menanam suatu jantung agar mekar di hatimu
adalah kita, menghabiskan masa SMA
di tengah tumpukan buku, tak kita selesaikan
pekerjaan Rumah, tak pernah
disini diantara gemuruh waktu kita terus bercanda
hujan memaksa kita
membahas pelajaran cinta.
Ada aku
Tangis sebuah perasaan, bila kita terluka
tumpahkanlah, jangan takut tersesat
karena ada aku yang memegangi
sebelah hatimu yang telah rapuh
Jangan takut tenggelam oleh luka
masih ada aku
yang akan mengapungkan jantungmu
Jangan takut akan cinta
ada aku yang siap membalut perasaanmu
jangan takut. Ada aku, ada aku.
“Akh..kau tak sadar juga…”

--------------------------------------------------

(diterbitkan, di Budaya - Sumut Pos)
Do`a
Gelaran do`a telah usai
kios tutup menyisakan
puntung-puntung dosa
taubat telah digulung
sebuah ruh memaksa
membuka tikar, duduk bersila
menyimpuhkan muka
lantas dari hentakan mimpi
seseorang turun
mengambil wudhu.

Dongeng

Serpihan hati membentuk kereta labu
Pegasus putih membawa kita
kedalam jalur pelangi
peri menghantarkan peta
agar tak tersesat kita
dikastil para naga atau
rumah penyihir tua
dengus serigala memburu domba
dihati, hingga akhirnya
kau melahirkan kurcaci dan
dari atas pohon kacang yang menjulang
aku jatuh, berputar pada jarum weker
terbangun dari seribu satu malam, ini mimpi.

Medan, 2009

Kompas Online.. Oase - Puisi, Rabu, 5 Agustus 2009 | 08:45 WIB

Sepi
Bayang yang sangkut di jendela
laksana burung hantu penjaga makam
padahal jantungku yang sangkut disana
berharap debu kenangan menempel
menyisakan sedikit cerita tentang
kenakalan remaja
Masih ingat aku
saat guru menerangkan, di sudut
kita kiriman surat, mencoret meja
dengan ukiran hati yang indah
padahal tak ada yang mengajari
rasa itu tumbuh subur dengan sendiri
Gerimis sering mampir
berduyun mencoba menghapus bayangmu
di kaca jendela
aku tak kuasa, tak bisa melarang mereka
menari eksotis di bola mata.




Ingatkah kau selembar daun hijau
di guratnya kita tulis puisi
alur cerita manja atau
cinta di bawah induknya
saat hujan tiba-tiba
merayu kita untuk berteduh
kering daun itu sekarang
usia memakannya seperti kita
menyisir uban di kepala
ia remuk ditindih angin
dan di dalam tanah tak ada habisnya
kau bercerita kepada tetangga
tentang cinta kita berdua
Medan, Juni 2009
Sebuah Mangkok
Mangkok yang berlumut ditangannya
menganga penuh tanya
“Akankah selembar uang mengisi lambungnya hari ini?”
dingin tangan keriputnya menengadah
mata sendunya bergetah, berjekat dosa
takkah kau lihat
sesaji luka telah ia tabur
kau berlalu tanpa jatuhan lembar rupiah
atau mengibas senyum.


Menunggu Mimpi
Negeri yang kita huni tak mampu
meninggalkan lelap di mata
tangis bencana terus meminta
sebuah nyawa untuk dipulangkan
atau ratapan kecil pinggir jalan
dan rayuan tengadah tangan
Bising!
takkah kau mau berpindah saying,
mencari negeri dongeng yang kata orang
permintaanmu semua dikabulkan
Dimana tak ada ratapan disana
lara, luka dan nyawa semua tertata
tiada yang mengantri
tiada yang menyumbang tangisan
tapi sayang, mengapa tetap menunggu
tersentaknya negerimu.
Bukankah kau bilang :
telah mengantuk dan secepatnya ingin tidur.


Malam
Jejak memaku malam,mimpi belum sempurna
gurat gelisah menetes dari pucuk daun
mengalahkan teduh embun dan lolongan anjing
mengudara sepi
tersudut gadis setengah baya memangku gelisah
kaki kecil mengigil, bergemeretak menahan
rinding yang tak kuasa ia benamkan dalam tangis
Pertengahan malam, gaun koyak setengah terbuka
ia tarik, menutup pori-pori kulit
dari jerat-jerit angin
tangis gadis kampung di tengah deru jalanan
wajah dan matanya menggambar sesal
meninggalkan desa tanpa pamit orang tua
melangkah terus meninggalkan keramaian
dengan percik darah suci di sepanjang jalan.
Sungguh, ia ingin pulang.


Menunggu Hujan
Angin lebih memilih rebah pada dingin
musim mengering, malam terlalu pekat
untuk setetes air
rekahan tanah tempat bocah,
membuang ingus, kencing bahkan darah
mengharap selembar daun tumbuh
dari batangan keropos kehidupan
Disini, gerimis mahal harganya
awan tak sedang memeras tangis
malaikat tak menjemur pakaian
basah, kita menunggu dengan getar
haus kerongkongan
retak kulit kering mengelupas
menyisakan sisik gelisah
juga kering lautan. Tanya terus tumbuh
mesjid mulai penuh
mengganti satu dosa dengan setetes air langit
di luar
segerombolan orang minum darah
saudaranya mengering.
Medan, Juli 2009
Kau Mungkin Tak Ingat Lagi
Kau mungkin tak ingat lagi
saat belanda menguasai kota kita
perempuan tak ada lagi memenuhi kali
termasuk juga kau yang berdiam diri
di gubuk sunyi setelah ayah dan ibumu
ditembak mati, kau melarikan diri saat itu
deru bom yang menghasukan desamu
sampai ke kotaku
Kala itu aku bertandang
pengunungan hijau asri
dan kita berjumpa ditengah arus sungai
dingin menjilat kaki
entah siapa yang menghantarkan
selembar pakaian dan rebah dipangkuanku
kau ikuti alur, terkejut menutup mata
Aku mandi, menghilangkan lelah pertarungan
sambil mencari bambu untuk diruncingkan
atau menunggu senjata dari teman yang mereka
curi dari gudang belanda dengan berani
aku tutup dada, sama terkejutnya kita
cepat mengambil pakaian, kau belum juga
membalikkan badan atau sekedar bertanya
Pakaianku lengkap dengan selempang sarung dibahu
keris di sudut pinggang kiri, aku hampiri
merayu senyummu dengan mengembalikan
selendang merah, semerah rona pipimu
tak lama setelah kita bertukar tanya
orang tua kita selanjutnya bicara.
Sepakat telah keramat, minggu depan dengan
sajadah lengkap pengikat, aku tuntun dirimu
ke altar suci.
Tiga hari sebelum perbuatan kita disyahkan
desing perluru menghujam desa
nafas warga dan orang tua sangkut di ujung senapan
larian gadis mereka jadikan permainan
kau bebas disembunyikan pohon bambu
tempat waktu kecil menghabiskan waktu
gubuk sunyi pinggir kali desa seberang, kau sembunyi
kota tak lagi milik kita dengan satu-satu langkah
sebelah kaki aku menjemput. Kau mungkin tak ingat lagi.

Medan- Juli, 2010 

Rabu, 08 Desember 2010

Suara Pembaruan, 19 September 2010 Rubrik : Puisi

Sajak – sajak ; Maulana Satrya Sinaga
Suara Pembaruan, 19 September 2010 Rubrik : Puisi

Terakhir Kali Aku Menuggumu Sambil Berkaca
Terakhir kali aku menuggumu sambil berkaca
pada kolam bulan telaga warna
riak air yang membayang menguak wajahmu
seperti ada senyum bersarang

kedap suara burung hantu
angin menyiul luka
akar sepi, serabut sunyi
cermin telah pecah dan aku bersandar
pada dinding basah

Ini Tentang Perempuan yang Datang Malam – Malam
Tentang perempuan aroma melati di gerbang rumah antara pohon beringin dan rindang rindu jejaknya pula mendayung angin pun aroma gerai rambut pada bulan purnama ia berkaca selendang putih sangkut di ayunan papan kadang ia menembang, kadang pula menyayat sedih pada lalu lalang orang, sering pula ia tertawa nyeri

tentang perempuan aroma kemenyan di gerbang rumah jejaknya tak cecah dibuai rumput belia pun embun sesudahnya ada gelisah bersarang diterusan bajunya yang merekah sewarna awan yang merah pun remang lampu jalan

tentang perempuan yang datang malam – malam mengaromakan kerinduan, konon ia sangkutkan sakit hati pada pohon beringin bak burung hantu merindu sayang tak dapat terbang dan ada sedih yang menggenang (siapa sangka sekarang, perempuan yang datang malam – malam terbang melayang) sebentar di teras rumah, sebentar di kamarku.

Bau Tubuhmu
Ketika air mata kita tak lagi sama warna bak camar menunggu di pekarangan senja sama warna pula awan di semenanjung barat menunggu kita yang renta

Ketika itu juga tak lagi aku cium bau tubuhmu, searoma ombak yang asin dan sedikit menggoda

Perempuan berselendang malam aroma bulan berdendang, mengais sunyi - menghiba nadi - merasuk diri sekian. kau pamit pergi.


Sekadar Menunggumu              
   ; Gadis pelataran sepi

Remang lampu jalan. hujan tanggung tergenang bersebab ada gigil menghujam entahlah, mengapa jejak memangku pada sebuah bangku tunggu antara stasiun tua juga gerbong – gerbong kereta yang mendamba suatu pertemuan aku tinggalkan saja segala resah (menabung ruang sisa luka kemarin)

lalu di belakang plasa ringkih bangunan becek jalan ada desah ada jerit, ada pula jatuhan uang ada dosa tentunya ah, daun kemayu itu malu – malu menanggalkan seluruh rindu “Singgahlah,” sekedar memanggil gadis pelataran sepi, masih juga kau tunggu aku membawa sepercik api sayang, aku telah berhenti merokok sekarang

Kau Diam Saja
Celoteh nakalmu mengingatkan
suatu kali pikiran perumpamaan kembang
selendang tujuh warna pelangi
patah di hati ada raung terbuang
dan kau diam saja
melambai tenang

Awal Kisah
Ada warna dalam kecupmu
segaris bibir, lekuk dari gelombang pikiran
bukan nafsu mengambang
gerimis tanggung ialah menembang kenangan
tak berbaju, aku tuntun dirimu
gigil. seragam membasah
berawal segala kisah


KSI – Medan, 2009

Jurnal Bogor, 22 August 2010 Rubrik: Ruang Sajak

Sajak – Sajak Maulana Satrya Sinaga
Jurnal Bogor, 22 August 2010 Rubrik: Ruang Sajak

Surat dari Anak serta Balasannya dari Sang Ibu
(Buat Ibunda Tercinta) Bu,  maaf tak dapat ku jejak kaki di halaman hatimu sebenarnya ada risau dan rindu yang menggantung. Maaf pula Bu, dua kali lebaran ku tak pulang meskipun sekadar mencium telapak tangan. Disini, ada janji lain yang ku ikat Bu, untuk kehidupanku di masa mendatang. Untuk membalas baktimu jua tentunya. Bu, Ibu sehat – sehat saja kan? Telah ku kirim pada ratih – anak perempuan ibu satusatunya – pula adikku tercinta. Semoga ibu bisa membeli mukkenah yang baru dan bermacam hiasan pelengkap lebaran. Bu, lebaran ketiga nanti. Ku pasti berkunjung pada kelopak matamu, pada ayunan kasih sayangmu pada rindumu. Bu, salam sayang anakmu.
(Buat Anakku Tercinta) Nak, baik – baiklah di seberang sana. Sebenarnya ibu mengharap rupamu yang datang daripada pesanan yang tiap bulan di ambil adikmu di AteEm kota sana. Disini, tiap kali mengenangmu ibu menangis. Apa kabar darah dagingku dan bagaimana bentuk wajahnya yang selalu ku ayunan dengan tembang dodoy si dodoy. Ibu sehat – sehat saja Nak, terima kasih atas baktimu. Kejarlah cita – cita. Suatu saat bila kau tak pulang lagi. Entah harus berapa kali ibu jahit di hati. Nak, ibu telah tua. Dan disamping anak. Itulah cita – cita ibu sebelum memejamkan mata. Ridho ibu untukmu.
Surat Buat Aisyah Aisyah, ku dengar kau telah menikah dengan saudagar kaya kampung seberang. Semoga bahagia haturku terhantar untukmu. Maaf, tak dapat ku jabat tangan. Kau tau kan kita terpisah oleh arus gelombang? Aisyah, kalau pun aku terpacak disana. Pasti ku tak kuat, melihatmu bersanding dengan pria lain di singgasana pengantin. Akh, pasti sedih. Jadi, disini. Aku tabah – tabahkan hati sendiri. Aisyah, jangan terkejut aku tahu darimana dan janganlah pula mengelak. Kau tau? Undangan kalian selama seminggu ini aku pandang. Bukankah di dalam turut mengundang ada pula nama orang tuaku? Suamimu sepupuku.
Asiyah, rasanya tak perlu lagi ku tanam rindu kau tanam tunggu. Akar janji telah terbakar pula hati. Sudahlah, tak perlu berlama tulisan. Makin banyak – makin dalam air mata tergenang. Semoga langgeng ke anak cucu. Itu saja.

Menyimpul Rindu di Dermaga Warna dermaga serupa senja. Merah saga. Telah melegak hitam dan matahari tumbang padanya. Kau tak juga datang, bahkan gerai rambutmu yang biasa tergenang di titian tak lagi dapat ku simpul – sehelai pun. Ada suatu sebabkah kau tak datang? Sekadar menjenguk anak camar belajar menangkap ikan, nelayan pulang dengan mata seadanya (mengintip romansa anak udang di balik karang). Akh, kau perempuanku tembang sepi ku nikmati sendiri. Pasang tetap pasang, jejak tiada datang.

Mengenangmu di Teras Rumah – Sri
Sri, tiga bungkus rokok dari puluhan batang ku umpamakan risau. Malam telah benar – benar malam. Kalau kau lihat disana, purnama telah jelang dan sungguh kuning emas warnanya. Teh manis ku pun telah embun. Serupa jantungku yang beku tiap kali mengenang perpisahan itu.
Sri, ku rindu rambutmu yang pandan – melati harumnya. Mengikat jejak agar berlama – lama diam di tempat. Bukan hanya itu, bola matamu yang dalam tempat menyelam cinta dari seribu petualangan tak pula ku lupakan.
Namun Sri, biarlah itu menjadi kenangan, kau tau derajat kita sungguh jauh tingkatnya. Jadi maklum sajalah ayahmu tiada setuju. Jangan basahi bantal dengan air mata karena ku benci hujan malam ini. Mengganguku melihat purnama.

Kenangan di Desa – Zulaiha
Leha, gerai jilbabmu melambai ke jantungku. Pucat pasi warnanya tak lagi merah nyala. Kau bertandang saat ku berbicara ladang, dengan sepeda tua ringan kau kayuh senyuman dan dari itu pula terkait jantungku di pedalmu. Leha, tak sia – sia ku habiskan liburan di desamu. Desa yang harum bau tehnya. Sopan akhlaknya, ramai suraunya. Ramai pula rasa hatiku bila memandangmu. Leha, janganlah menunduk saat ku tatap. Ku ingin membenamkan pandangan kagum pada bola matamu yang coklat. Entahlah. Leha, inginku berlama disini dan enggan kembali ke kota. Kan ku terima semua syarat dari orang tuamu. Dan secepatnya, seperangkat sajadah ku sediakan. “Sebelumnya abang harus belajar mengaji,” katamu. Aduh leha, aku malu. Kau tersipu.

Pamit
Dalam diam serupa cahaya kunang – kunang. Ini malam, tak dapat ku tahan resah. Di halte kota tempat pertemuan kau datang dengan gaun putih kembang. Tak biasanya wajamu pucat. Angin khidmat dan dalam pamit yang hampir tak bersuara ku lamunkan tujuh hari kenangan.

                                                                  KSI -Medan, 201

sajak - sajak maulana satrya sinaga

Sajak - Sajak Sederhana


Bukan Bermaksud Menggombal tapi Inilah Adanya


Ku tak ingat kapan ter-akhir kali memimpikanmu, yang ku ingat setelah percakapan kita, ku tutup gorden jendela yang penuh kunang – kunang.
Lalu dengan tangan melingkar pada kening, ku kenang – kenang senyummu, senyum yang sederhana dengan sebelah lesung pipit yang terkadang, menenggelamkan ku sedalam jurang.

Ku tak pernah mau berterus terang dan kau pun tak pernah jujur nanti maupun sekarang bahwa kita saling berkebun cinta. Menanam segala tawa, canda, larian, cubitan dan bermacam hal yang aku lupa namanya

Perempuanku, kali ini ku tak ingin memberimu puisi yang beragam metaforanya dan bersajak, karena pernah suatu kali kau kata “ku tak suka rayuan atau gombalan,” lalu ku diam sambil membuang daun di balik tangan. “ya, daun yang telah ku ukir puisi tentangmu di guratnya yang coklat,” daun yang biasa menemani percakapan kita ketika sore di halaman- di ayunan, di jalanan tiap kita menjejak rindu.

Malam telah – malam dan disebarang sana kau pasti terlelap. Aku tahu, perasaanmu saat bertanya pada ibu, kau mencintai dan menyimpannya menjadi segelas rindu yang beku. Ibumu pun tahu, akan jantungku yang kadang berdebar tak menentu, saat kau menarikan senyuman. Kau pasti telah terlelap disana, dalam selimut rasa dan ku juga. Cepatlah pulang. Dan ini bukan sebuah puisi atau gombalan tapi ungkapan perasaan. Selamat malam.

 Medan - Marelan, Desember 2010

puisi sederhana untukmu

ku tulis puisi ini di teras rumah,
tempat biasa kita berbicara tentang segala rasa
baik percakapan cinta dan perihal keluarga
kali ini angin lebih memilih diam,
tidak menggoyang daun mangga sedemikian rupa kencangnya
dan,
aku jadi teringat rambutmu yang basah
yang ku rindukan sandarannya di bahu - dulu

perempuanku,
disini ku masih menanti langkahmu
langkah yang sederhana
yang kunantikan tapaknya di halaman rumah
yang ku kenal aromanya meski dari ujung pandangan

di teras rumah
ku tunggu kau dengan sederhana
dengan segelas rindu
dan sepiring pertanyaan
mengapa kau tak pernah menjengukku
meski sekedar bertanya, apakah ku luka?

marelan, 2010

Perempuan sirup

memandangmu adalah segelas sirup yang terhidang
pada bola mata dan senyummu adalah kiambang padanya
(jelmaan es batu, agar segar kenangan pula siang)
ku ingat saat bertandang ke lesung pipitmu
aku tenggelam padanya yang merupa jurang

ya, begitulah
segelas sirup dan es batu
menyegarkan cintaku siang itu.

Marelan, 2010


Seingatku dulu

seingatku dulu, saat matamu menampung hujan
lalu dengan langkah sederhana kau jemput aroma pandan dari petang
kali ini ku tak membicarakan tentang paru – paru yang kau curi
saat bercanda dengan sebutir nasi yang sungguh
banyak hitungannya adalah sebenar rindu

seingatku dulu, hujan dan paru – paru sama warnanya
lalu hitam menjemput awan dan kau memilih rebah
pada pelataran kenangan setelah petang tak lagi
membicarakan tentang muasal nasi
dan ini berbolak – balik
serupa tanganmu yang menggenggam sebungkus matahari

seingatku dulu, matahari dan malam dekat jaraknya
dimana, paru – paru, nasi, rindu, pandan dan petang
muasal dari jantungmu yang dendang.


 Marelan, 2010

Kenangan
Oleh : Maulana Satrya Sinaga

saat kau membaca tulisan sederhana ini.
sesederhana itu pula : ku ucapkan rindu
ini tentang masa putih abu - abu
dimana ku kenal kau dalam teduh jilbab
dalam ayat yang santun kau ucap
dalam gemulai senyum yang bersebab ;
mengharuskan perasaan tuk mengenalmu ( lebih jauh )

aku ingat, kala kau melukis dedaun di halaman belakang
kala itu pula angin menggerai jilbabmu yang separuh badan
sungguh itu indah.
lalu dengan seksama ku mohonkan hujan
maka, tanpa lama kau berteduh pada payung yang ku bawa
ya, payung sederhana dengan warna jingga
tengah menyatukan mata kita
- saling berpandang -
dan selanjutnya..?
angin yang menyatukan rasa.

akh, pasti kau tengah menangis disana
meremas sebuah surat dan
aku tahu selanjutnya kau berucap ;
" ku juga rindukanmu, disana."

dulu. dulu sekali.

Ketika hujan di Marelan, 2010

Sajak sederhana  : Aku mencintaimu

Jujur : ku rindukan senyummu yang kala kita bertemu
Selalu saja ku pandangi bibirmu agar jatuh pada jantung
Agar ia berbicara indahmu tiap kali sebelum impi

Dalam langkahmu yang sederhana pula
Dari jauh telah ku cium aroma sekembang pandan
Padahal rambutmu tertutup kerudung
Yang meneduhkan ; lagi tiap kali kita bertemu

Selalu, pada gerakmu yang sederhana
Terkadang ocehanmu yang salah rupa
Pula santun dan lembut bicaranya
ku nikmati semilir angin yang meniup paru

Ini selembar surat
Ku selipkan di sela jendela rumahmu
Agar kau tahu maksudku ^_^

Pada Gerimis Marelan, 2010 

Adrya *

Ini tentang sebuah bintang yang sendiri
di sebelah barat rumah kita
seingatku, kita namai ia dengan adrya
akh, pasang surut cahaya sama seperti rindu
yang deburnya kadang tak menentu di hulu paru

Ini tentang lekuk senyummu di jauh hari
di jauh jarak yang tak seperti daun keladi
lalu ku pilih kiambang agar
tergenang malam
(berharap tangan kita saling silang dalam mimpi)
kemudian hari.

* Adrya : Adinda - Satrya ( bintang yang sendiri dalam waktu beberapa hari ini )
nama ini hasil kompromi : thika cahyani dan maulana satrya sinaga.
kami memaknainya sendiri ^_^..



Mengaharap Suatu  Pertemuan Sederhana.
Kepada : Thika Cahyani

Pada suatu jarak yang belum kita tahu artinya, kau disana menunggu sebuah senyum
dari seorang pria yang entah kapan datangnya.
Kadangkala sebelum malam kau sempatkan mengintip rembulan di celah daun teh muda.
Dan payung yang selalu kau gunakan menahan gerimis erat pula genggamannya ;
Sekedar menahan rindu agar tak gigil baunya.
Hmm, entahlah dinda.
Kita berseberang pulau dan selalu kita berjanji dalam mimpi hanya di dalamnya.
Masih ku nantikan denyut pertemuan ini. Di jembatan yang sering kau kisahkan aku pada genangan air, pada bebatuan yang jernih arusnya, pada anak ikan yang mulai pandai bercinta dan pada gerimis tentunya.
Dinda, sekian saja ya, ku ingin cepat bermimpi dan bertemu.

Medan - Bandung, tak bertahun..


Dalam Rindu yang Sederhana
Oleh : Maulana Satrya Sinaga 

Ku nanti kau di pucuk malam bersama mercusuar
yang aku lupa warnanya. semisal kau takut akan gigil
maka tatkala itu api unggun tengah jauh dari tubuh kita
ya, seharusnya kita lebih memilih selimut awan
dan menguliti rembulan untuk switer barumu juga ku
sederhana bukan?

Marelan, 2010 

( Sajak - Sajak Sederhana, Medan - Marelan 2010 )