Ini Tentang Sebuah Perasaan
; Kepada Shofa
/1/
Ku kenang perjumpaan di trotoar kota. Gerimis dari dingin jantung mengisahkan langkah jentik hujan. Genangan mengambang dan air wajahmu memercik ke jalanan tempat muasal kenangan lampau. Waktu itu senja serupa gaun yang kau kenakan. Altar percakapan kita kembang. Tentang sebuah tanya ”untuk apa, darimana dan siapa,” beribu pertanyaan saling kulum di keriput bibir kita yang kabut.
/2/
Kau gadis itu. Menyiram luka dengan gerimis. Berkayuh gemulai menggayung tangis. Kedingan pula dengan kulit yang terbuka. Ada jaket ku selipkan di tubuhmu sempat pula ku nikmati aromanya – pandan melati. Aku jadi ingat suatu masa dimana seragam masih kita kenakan. Cinta jadi topik utama, jajan puisi tiap malam – tiap rembulan selalu, kertas kita tanam di bola mata sampai tengah malam kadang sampai gigil daun terseduh embun.
/3/
Suatu ketika perasaan terbenam. Kita sadar ufuk barat telah menamatkan senja di waktu kali ini. Masih di kota yang sama. Perjumpaan menjamu babak baru dari detik jam. Adalah rangkaian senyum tiada bayang. Kali ini, tangis menghujam. Segera ku jaring romansa yang dalam yang telah nisan.
/4/
Mata kita saling bicara aroma. Bukan senja yang senyap sama seperti bus yang ku tunggu dalam menit – menit tertentu.
Senyummu yang tari
Senyummu genderang tabu – genderang hatiku. Kadangkala senyap. Padang ilalang hanya angin dan ku tunggu gemulai selendang. Seruling ini rindu tembang tarian dan nyanyian. Suara aliran gemericik air. Ku tahu kau datang. Dengan selendang di pinggul. Kita mulai syair dari rerumput kecil pematang sawah. Tak perduli cericit burung pipit. Kita tembang – kita tari yang lupa menjaga padi.
Renta waktu
Ku ingat terakhir kali langkahmu condong ke barat. Lalu sebab arah petang mengarah ke laut. Kita pilih dermaga – tempat merebahkan perjumpaan alakadarnya – menyantun angin dengan ranum pembicaraan, barang itu rindu berpilin syhadu.
Dek, telah lama waktu menjaring sepi seperti ikan sangkut di balik rajutan tangan nelayan. Tangan kita telah retak usianya. Jangan lagi pergi mendulang sesuap harap.
Sadarlah, rintik putih telah membalut, jauh sejak lama. Ini bukan debur ombak singgah di kepala. Sepantasnya kita bicarakan masa tua sebentar saja.
Rindu
ini rindu petang karang
berbuih tunggu - menunggu
dendang dari jejak anak nelayan
maka pada dermaga petang
ku salin rindu tak berkesudahan
Dermaga
Mungkin dermaga telah tua warna
Pada cahaya yang entah rupa jejaknya
Aduhai langkah angin
Lalu sebab perpisahan dulu
Kita tak pernah menjalin tangan
Dan uban terus tergenang
Medan, Oktober 2010